Baca berita2 baik itu di net ataupun koran, pemerintah mencanangkan mulai 2011 semua kantor pemerintahan sudah menggunakan opensource, linux tentunya….

Bukan pesimis atau apa… Sudah lebih dari 6 bulan di kantor migrasi ke linux… juga pengalaman nanganin masalah yg berhubungan dengan linux… mau ga mau memang harus siap dengan permasalahan yang mungkin disebut klasik atau cemen bagi linux freak, tapi tidak bagi orang awam…

Masalah sepele seperti ini… “Pak printernya gak bisa ngeprint..”
“Pak tolong folder ini mo disharing”.., “Pak pengen ngeprint ke komputer sana (jaringan)”, “Pak, internetnya ga jalan..” dan banyak panggilan2 lain.. yang pasti mudah bagi linux freak itu tadi…. tapi ternyata tidak bagi orang awam…

Gimana mo mudah kalo selalu bandingin sama win***s, yg tadinya sharng printer or folder tinggal klak klik di network places jadi harus pake IP trus IPP dst dst….

Bukannya menolak untuk mendukung gerakan open source (aku juga kerja jadi supporting migrasi) tapi harusnya pemerintah atau siapapun itu lah (termasuk gw juga kudunya) lebih prepare buat troubleshooting.

Pemerintah selama ini terkesan hanya himbauan semata, padahal masalah trouble shooting itu yang menurut gw lebih penting… blom lagi masalah akses internet.

Selama ini gw bisa menyelesaikan sebagian besar trouble di lapangan about linux karena internet, baik butuh tuk googling ataupun butuh repository (enak kan kalo konek internet, butuh apa tinggal apt-get)

Blom lagi masalah distro. Harusnya juga ada satu kesepakatan yang jadi standar distro apa yang mo dipake. Well itu mungkin debateble. tapi itu pasti akan memudahkan orang awam tadi memahami linux…

Selama ini gw pake Mandriva, Dari Mandriva 2008 ampe sekarang One 2010.0. Pernah gw pake dikantor yang masing2 IT nya pake distro pilihannya. Jadi bingung kan pas trouble. Akhirnya semua dikantor skarang migrasi lagi ke Karmic Koala (Ubuntu 9.10). Kan ada juga user yang protes mesti adaptasi lagi, even itu sama2 linux.

Emang pemerintah ga kan masuk blog ini, tapi sumbang saran aja. kalo memang 2011 mo go open source harusnya lebih aktif lagi donk tuk prepare di troublehooting, identifikasi hardware yang linux ready, solusi buat daerah/kantor/sekolah miskin internet dan tentunya kurikulum yang linux based even dimulai di hobby group dulu sebelum jadi pelajaran wajib…

Contoh simple aja.. saat ini gw blom bisa nemuin driver untuk printer kasir yang kecil itu… terus pastinya akan banyak masalah serupa lainnya apabila penerapan itu tanpa persiapan matang. Semuanya himbauan atau tekad tersebut hanya akan jadi “macan kertas yang ompong dilapangan… ” (semoga tidak).

Jadi saran tuk prepare ke go opensource :
1. Solusi masalah troubleshooting (dari pengalaman banyak juga organisasi/institusi yang emoh linux dengan alesan : “Ntar kalo ada yg trouble siapa yang nyelesein, kita semua disini ga ada yg ngerti).

2. Standarisasi/kesepakatan distro yang mo dipake. Jadi nantinya lebih terfokus baik dana, fikiran dan tenaga untuk supportingnya seperti sebar tutorial, buku, video, himbauan, pelatihan, dsb.

3. Himbauan dari pemerintah juga kepada produsen hardware agar mendukung linux ready, sehingga produsen hardware tersebut mengeluarkan produk yang compatible dengan linux.

4. Edukasi termasuk di sektor pendidikan. Misal kurikulum office jangan hanya produk MS aja tapi kenalkan juga open office, sehingga masyarakat awam makin akrab dengan linux (tak kenal maka tak sayang bukan?!)

5. Libatkan komunitas2 linux baik online maupun offline, ini bisa lebih efektif daripada hanya sektor formal aja yg bergerak….

Well Semoga Indonesia benar2 bisa lebih mandiri, lebih melek komputer dan jangan hanya terkenal sisi pembajakannya aja…

Go Opensource.. Going Legal…..

3 responses »

  1. dani mengatakan:

    Beberapa help desk kpli online yang ada, pernah nyoba ngg mas?

    Sepertinya Ubuntu-based bakal makin banyak yang mengadopsi skala nasional.

    Untuk modem, thanks God buat beliau-beliau yang dah ngakalin driver-nya.πŸ˜€

    Apalagi sudah ada Go-OO.Org.

    Kalo terkait pemerintah, pas deh..πŸ™‚
    Sekarang komunitas blogger makin populer, berikutnya harusnya komunitas open source menyusul.

    Siip… setuju…. power itu akan tetap ada di komunitas n tentu saja dedikasi orang2 yang sukarela bekerja membuat open source lebih baik…

    Suka

  2. Hendra mengatakan:

    Bisa jadi diskusi yang menarik…

    1. Justru itu kenapa perusahaan (yg berbujet cekak juga) nggak melakukan itu, lebih memilih main gampang n cepet yg familiar… dengan alesan gak ada yg troubleshoot… padahal komunitas kan banyak…

    2. Memang tidak akan pernah bisa dipaksakan di dunia linux, tetapi untuk pengenalan perlu hal yang sama. biar rada nyambung… jangan blom apa2 udah cerita berbagai macam distro, bisa mudeng klo yang baru mau pindah ke linux…

    3. Yang jelas sampe saat ini dukungan itu masih terbatas… COntoh kecil.. berapa banyak modem 3G yang support ma linux… aplikasi bawaannya pun under wi***s…

    4. Memang aturan itu mulai luntur… tapi kurikulum masih blom berubah (at least di tingkat smp saat ini misalnya)… misal ngetik masih pake “itu” semata, kenapa ga dua-duanya dikenalin…

    5. Ini yang harusnya pemerintah lakukan… toh masih komunitas juga yang berjuang untuk linux, bagi-bagi cd linux dengan modal sendiri…. walaupun memang kalo nunggu pemerintah… ya begitulah…

    Yang jelas sesuatu yang harus kita ambil ya Open Source ini… jangan mau terus-terusan dikungkung teknologi…. Manusia bisa lebih kreatif dan produktif dengan semua yang ada…. Dan Komunitas ini merupakan potensi yang Powernya luar biasa….

    Go Open Source….

    Suka

  3. dani mengatakan:

    Sinisnya, saya mengomentari:

    #1. Solusi masalah troubleshooting
    Memangnya kalo di sistem operasi (SO) lain ada yang bisa nangani juga? Atau manggil staf khusus TI? Kenapa ngga nyari staf TI yang paham pelbagai SO termasuk Linux (sebelum gaji mereka makin mahal karena kelangkaan kemampuan Linux-nya)?

    2. Standarisasi/kesepakatan distro yang mo dipake
    Sepertinya Ubuntu-based makin jadi pilihan. Walau hal itu (standardisasi) tidak akan bisa dipaksakan di dunia sebebas Linux.πŸ™‚

    3. Himbauan dari pemerintah juga kepada produsen hardware agar mendukung linux ready
    Jika dukungan terhadap Linux meningkat, masak sih produsen-produsen itu tidak berhitung?

    4. Edukasi termasuk di sektor pendidikan
    Masihkah ada: “Laporan ilmiah harus diketik dengan huruf [proprietari] memakai aplikasi [proprietari] berformat [proprietari]”?

    5. Libatkan komunitas2 linux baik online maupun offline
    Linux kan memang dari komunitas untuk komunitas. Bisa hidup memakai Linux tanpa komunitas?πŸ™‚

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s